Naiknya Harga Jagung Tak Pengaruhi Harga Ayam di Lampung

peternakan-ayam-_130718155113-389RADIO SUARA WAJAR – Harga daging ayam di Lampung tidak terpengaruh harga jagung, berbeda dengan data dari Kementerian Perdagangan, tentang harga daging ayam yang rata-rata saat ini mencapai Rp33.237 per kg atau naik 15,46% dari Oktober 2015 sebesar Rp28.785 per kg, yang diakibatkan harga jagung tercatat naik dari Rp3.000 per kg menjadi Rp6.000 per kg.

“Harga daging ayam di Lampung sendiri tidak terpengaruh oleh harga jagung, karena saat ini harga daging ayam di Lampung malah turun dari harga Rp21 ribu per kg menjadi Rp18.500–Rp19 ribu per kg nya,” kata Ketua Umum Perhimpunan Industri Peternakan Ayam Ras (Pintar) Lampung, Agus Wahyudi yang juga sekaligus sebagai Asistan Vice President PT Ciomas Adisatwa, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (1/2/2016).

Seperti dilansir lampost.co, Agus mengakui dengan adanya kenaikan harga jagung, memang harga pakan ayam di Lampung terpengaruh, karena sebagian besar bahan pakan ternak menggunakan 50%-60% menggunakan jagung.

“Meskipun demikian, harga pakan tidak begitu terpengaruh hanya mengalami kenaikan antara Rp200-Rp300 per kg. Pengaruh harga jagung banyak mempengaruhi di Pulau Jawa,” kata dia.

Menurut dia, harga jagung memang berpengaruh terhadap harga pakan, dan harga pakan berpengaruh terhadap biaya produksi ayam.

“Tetapi begitu berbicara harga ayam tidak tergantung dengan harga pakan karena ayam merupakan komoditas yang mempunyai harga HPP,” kata dia.

Agus melanjutkan peternak ayam dan produsen ayam di Lampung memang tangguh. Dia mencontohkan misal HPP ditetapkan seharga Rp18 ribu, begitu panen ternak ayam, belum tentu produsen atau pengusaha ternak bisa menjual Rp18 ribu. Semua tergantung dengan kelancaran supplay ke pedagang daging ayam dan masyarakat mau membeli atau tidak.

Karena dalam prakteknya begitu masyarakat tidak mau membeli, para pengusaha atau ternak ayam akan mengeluarkan biaya operasional yang lebih besar lagi karena membiayai biaya pakan lagi akibat ternak ayam tidak dapat keluar dari kandang atau dipotong untuk untuk dipasarkan.

“Hal itulah yang biasanya dimainkan para pedagang untuk bisa bermain soal harga daging ayam. Yang membuat para pengusaha semakin merugi,” kata dia.

Agus juga mengusulkan Pemerintah Provinsi Lampung merealisasikan dan membuat rumah potong hewan khususnya ternak ayam yang mengelola stok daging ayam dan juga pengemasan ayam beku.

“Dengan begini, para pengusaha ternak ayam tidak ditekan dengan para pedagang dalam soal harga sehingga harga ayam terus stabil dan kondusif,” kata dia.

Agus menambahkan untuk stok daging ayam dan telur di Lampung sendiri masih mengalami kelebihan stok atau surplus. Mengingat wilayah Lampung merukan sentra ternak ayam yang juga mendistribusikan ke luar wilayah Lampung.

 

661 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *