Marsius Marto Sentono : “Ojo lali saben ari eling marang Pangeran niro” (Jangan lupa setiap hari untuk mengingat Tuhan)

Marsius Marto Sentono (95) bersama dua cucunya di depan Gereja Santa Lidwina, Stasi Suka Bandung, Paroki Santo Yohanes Rasul Kedatong, Sabtu 30 Januari 2016.

Marsius Marto Sentono (95) bersama dua cucunya di depan Gereja Santa Lidwina, Stasi Suka Bandung, Paroki Santo Yohanes Rasul Kedatong, Sabtu 30 Januari 2016.

LAMPUNG SELATAN, POTRET SUARA WAJAR – Gumpalan asap putih beraroma pekatnya kemenyan keluar dari mulut Marsius Marto Sentono (95). Serta-merta pandangan matanya menerawang jauh saat asap “rokok rakitan” yang diisap berhamburan, berebut keluar dari mulutnya. Asap-asap itu terbang lambat membumbung tinggi di langit-langit rumah tempat Suara Wajar menemuinya.

Lima tahun lagi umur pria kelahiran Desa Boro Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo, DIY ini, genap berusia seratus tahun. Tapi hampir tak tergambar jelas tanda-tanda “kerentaan” pada dirinya.

Udara terasa begitu panas siang itu, Sabtu 30 Januari 2016 saat Suara Wajar menemui Marsius Marto Sentono di kediaman anak bungsunya di Desa Rulung Sari, Dusun Suka Bandung III, Natar, Lampung Selatan. Letaknya hanya beberapa puluh meter dari Gereja Santa Lidwina. Gereja ini merupakan satu stasi di Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton Bandar Lampung, Keuskupan Tanjungkarang. Didampingi putri bungsu dan dua cucunya dengan daya ingat yang tergolong sangat baik pada usianya sekarang ini, Mbah Marto lugas menceritakan perjalanan hidupnya dengan Bahasa Jawa Krama.

Mbah Marto begitu orang-orang di desa mengenalnya. Dia merupakan katekis sekaligus tokoh katolik pendiri Gereja Stasi Santa Lidwina. Tak hanya itu, bapak delapan orang anak ini ternyata tokoh Katolik sentral di Stasi Metro pada tahun 1960-an. Siapa yang tak kenal dirinya waktu itu? Selain memimpin umat Katolik se-Kecamatan Metro waktu itu, Mbah Marto juga memimpin Partai Katolik disana.

Decak kagum terlihat jelas pada raut muka dua cucu yang turut menyimak cerita kakeknya saat Mbah Marto menunjukan kelihaiannya bercerita tokoh-tokoh yang ada di Alkitab. Cerita-cerita ini lah yang digunakan Mbah Marto mengajar agama sebagai katekis kala itu.

Pada tahun 1962 Mbah Marto pindah dari Metro 12 B ke tempat tinggalnya sekarang Desa Rulung Sari, Dusun Suka Bandung III, Natar, Lampung Selatan. Hanya beberapa kepala keluarga katolik di Dusun Suka Bandung saat Mbah Marto pertama kali menginjakan kaki. Dan semenjak Mbah Marto menetap, mulai dibangunlah kapel seadanya dari bahan papan dan pada akhrinya bediri Gereja Santa Lidwina. Atas prakarsa Mbah Marto dan Romo yang melayani umat di stasi ini berdirilah tempat ibadah bagi orang katolik.

Dalam perjalanan hidup selalu saja mendapati godaan dan cobaan, begitupun yang dialami Mbah Marto. Pada tahun 1970-an diakui anak kedua dari tiga bersaudara ini, menjadi masa kelam hidupnya, karena ketidakmampuan menghadapi godaan yang menghampiri. Meski demikian Yesus sebagai satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup terus melekat dan menjadi pedoman hidup Mbah Marto.

Mbah Marto sampai saat ini begitu disegani, tidak hanya oleh orang katolik tapi juga warga lain di sekitarya. Berkat “kemampunan menyembuhkan orang sakit” yang dikaruniakan Tuhan pada dirinya, Mbah Marto hingga sekarang acap kali dimintai tolong oleh warga dari dan luar desanya. Mbah Marto terkadang tidak percaya akan kemampuan yang dimilikinya, itu karena Mbah Marto merasa berlumur dosa. Puji syukur selalu dia panjatkan pada Sang Empunya Hidup karena lewat tangannya banyak yang sembuh dari sakit.

Diakhir perbincangan dengan Suara Wajar, Mbah Marto mempunyai harapan besar, yakni agar umat Kalolik di Stasi Santa Lidwina Suka Bandung Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton semakin maju dan berkembang.***

Reporter    : Robert

Editor      : Kakek Boncel

899 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *