Pantang menyerah oleh keadaaan

Yohanes Supardi (75) di kediamannya Jalan Imam Bonjol Gang Prona No. 46 B Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Sabtu 16 Januari 2016.

Yohanes Supardi (75) di kediamannya Jalan Imam Bonjol Gang Prona No. 46 B Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Sabtu 16 Januari 2016.

BANDAR LAMPUNG, POTRET SUARA WAJAR – Terik sang mentari Sabtu siang 16 Januari 2016 begitu angkuh mengiringi langkah kaki Suara Wajar saat mencari kediaman Yohanes Supardi (75). Dia adalah seorang pensiunan guru di Sekolah Dasar (SD) Sejahtera I Kedaton, Bandar Lampung. Pria kelahiran Prambanan, Yogyakarta tahun 1935 ini merupakan salah satu tokoh pendiri terbentukanya lingkungan/kring Paulus Paroki Katedral Keuskupan Tanjungkarang.

Di benak Suara Wajar dalam perjalanan, tergambar seorang yang energik, semampai dan berbadan tambun. Ternyata dugaan itu meleset, setelah bertemu di kediamannya yang sederhana Jalan Imam Bonjol Gang Prona No. 46 B Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. “Pardi”, begitu warga sekitar mengenalnya. Ia jauh dari yang diperkiraan, karena usianya pria ini terlihat lemah, pendek dan kurus.

Saat Suara Wajar sampai di rumahnya, disambut oleh seorang wanita tua yang tengah asyik menjahit. Wanita bernama Yohana Kasini (70), ternyata merupakan istri Pardi yang mengatakan bahwa suaminya tengah asyik membaca koleksi bacaan miliknya di kamar. Setelah beberapa menit, barulah Pardi yang terlihat gugup bersedia meninggalkan buku-buku kesayangannya untuk menemui Radio Suara Wajar. Suara Wajar kagum terhadap kakek yang telah uzur masih gemar membaca.

Kepada Suara Wajar, kisah hidupnyapun dimulai saat dirinya bisa diterima di Sekolah Guru B (SGB) setingkat SMP plus setahun. Perlu diketahui kala itu, yang dapat masuk ke sekolah ini adalah siswa-siswi pilihan tamatan Sekolah Rakyat (SR) yang setara SD. Hanya siswa berprestasi peringkat satu dan dua yang dapat masuk sekolah ini.

Setamat SGB kemudian suami dari Yohana Kasini ini melanjutkan ke Sekolah Guru A (SGA) dan akhirnya mencapai gelar sarjana muda atau Bacaloriat of Art (BA) di Perguruan Tinggi. Pada zamannya ini merupakan prestasi yang langka dicapai oleh seseorang, telebih lagi dengan biaya yang diusahakan sendiri. Mengingat Pardi adalah anak yang broken home disebabkan kedua orang tuanya bercerai sejak berusia tiga tahun. Kedua orang tuanya masing-masing menikah kembali dengan orang lain.

Sekitar tahun 1968 Pardi merantau ke Bumi Ruwa Jurai tepatnya di Tanjungkarang. Istri yang telah disuntingnya kala di bangku kuliah sementara ditinggalkan di Yogyakarta. Barulah setelah mendapatkan pekerjaan di Lampung sebagai guru SD swasta, menyusul istri Pardi dan anaknya sekitar tahun 1969.

Saat itu Pardi dan keluarganya belum memeluk agama Katolik. Setelah berkenalan dengan salah satu katekis gereja katolik Tanjungkarang (sekarang Katedral Kristus Raja) Mardi, Pardi dan keluarganya mengajukan diri untuk diterima menjadi warga Katolik. Benih-benih Kekatolikan Pardi ternyata telah tumbuh sejak di bangku SGB. Berdasarkan cerinta Pardi, siswa-siswi SGB diberi kebebasan memilih tiga pilihan pelajaran agama yakni, Islam, Katolik dan bebas tidak memilih salah satu. Ternyata Pardi memilih mengikuti pelajaran Agama Katolik mengingat keteladanan para romo “londo” kala itu membuatnya “kepincut”. Permintaan bapak tiga anak ini, sebagai pengikut Yesus direspon oleh Romo Kepala Paroki, Pastor Boren, SJC.

Setelah dibabtis dan tinggal di tempat tinggalnya sekarang, Pardi bersama kawan-kawannya membentuk komunitas katolik yang sekarang bernama Lingkungan Santo Paulus Gedong Air. Mengingat tempat tinggal keluarga-keluarga Katolik terpencar jauh dari komunitas lingkungan/kring lain.***

Reporter : Robert

Editor     : Kakek Boncel

Foto       : Anastasia Peni

 

 

752 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *