Renungan Harian, Rabu, 6 Januari 2016


Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan

INJIL: Mrk 6:45-52
Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan diatas air dan hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka.

RENUNGAN
Setelah rasa lapar orang banyak dipuaskan, Yesus langsung mendesak para murid-Nya untuk pergi sebelum Ia membubarkan orang banyak. Mengapa Yesus harus berbuat seperti itu? Penginjil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa setelah orang banyak diberi makan ada gerakan untuk mengambil Yesus dan membuat-Nya menjadi raja (Yoh 6:14-15). Hal itu merupakan hal terakhir yang dihasrati oleh Yesus. Menjadi raja dengan segala kekuasaan duniawi adalah hal yang ditolak oleh-Nya mentah-mentah. Yesus menolaknya ketika Dia digoda di padang gurun oleh Iblis (lihat Mat 4:8-10; bdk. Luk 4:5-8). Yesus memang melihat masalah ini akan muncul. Ia tidak ingin para murid-Nya terkontaminasi oleh ide atau pemikiran yang terkait erat dengan gerakan nasionalistis-revolusioner di antara umat Israel. Maka Yesus menyuruh para murid-Nya untuk pergi sebelum orang banyak yang sedang mendengarkan khotbah-Nya dibubarkan. Kalau tidak demikian, hati para murid-Nya dapat saja dibakar oleh gerakan revolusioner ini. Yesus lalu menyuruh orang banyak untuk pulang.

Setelah berpisah dengan orang banyak itu, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, sendiri. Banyak masalah yang tentunya bermunculan dalam pikiran dan hati-Nya. Pada saat itu sungguh banyak masalah yang ada dalam pikiran Yesus dan hati-Nya jelas berbeban berat. Seperti biasanya, Yesus menyediakan waktu berada bersama Bapa untuk berjam-jam lamanya. Lalu dari atas bukit Yesus melihat betapa payahnya para murid-Nya mendayung karena angin sakal. Yesus melupakan keselamatan diri-Nya dan pergi untuk menolong para murid-Nya yang adalah sahabat-sahabat terdekat yang dimiliki-Nya. Inilah Yesus. Kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada para murid-Nya dengan berjalan di atas air (Mrk 6:48). Yesus mendatangi mereka, sampai-sampai para murid-Nya menyangka Dia hantu. Yesus segera berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda (Mrk 6:50-51). Jika berada bersama Dia, para murid pun merasa nyaman, tanpa takut atau khawatir sedikit pun.

Dari peristiwa di atas membuat keyakinan kita saat ini bahwa manakala Kristus ada di antara dan di dalam diri kita, maka badai kehidupan kita pun mereda, huru-hara pun berubah menjadi damai-sejahtera, apa yang tidak dapat dilaksanakan menjadi terlaksana, beban yang tak dapat ditanggung menjadi dapat ditanggung. Semoga kita percaya akan hal itu.

DOA:
“Ya Tuhan Yesus, pada saat-saat aku dibebani oleh rasa takut, perkenankanlah Roh Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu yang menyejukkan: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Terima kasih Tuhan Yesus, Engkaulah Sang Emanuel. Amin.”

 

900 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *