Sarwoko : Bahagia itu jika hidup bermanfaat bagi orang lain

Lorensius Sarwoko S.P. (50) di Gereja St. Petrus Stasi Natar, Jalan Raya Natar Lampung Selatan, Sabtu 02 Januari 2016.

Lorensius Sarwoko S.P. (50) di Gereja St. Petrus Stasi Natar, Jalan Raya Natar Lampung Selatan, Sabtu 02 Januari 2016.

“…menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya” (Kisah Para Rasul 18:27).

LAMPUNG SELATAN, RADIO SUARA WAJAR – “Kalau hidup saya itu bermanfaat bagi orang lain, itu saya sungguh merasakan kebahagiaan hidup, daripada hanya waktu terbuang begitu saja tanpa ada manfaatnya bagi orang lain” demikian diutarakan Lorensius Sarwoko S.P. (50).

Sudahkah hidup kita menjadi berguna bagi orang lain? Berulangkali Allah menegaskan bahwa panggilan hidup orang katolik ialah menjadi terang dan garam dunia serta teladan yang baik untuk sesama. Dengan kata lain, kita harus hidup untuk menjadi berkat dan menjadi berguna untuk orang lain.

Bagaimana hidup kita bisa menjadi berguna? Kita menjadi berguna ketika orang-orang disekitar kita menerima hal-hal yang baik yang terpancar melalui hidup kita. Entah melalui kesaksian hidup, peran kita di dalam kehidupan baik di gereja maupun di tengah masyarakat.

Setiap hari yang kita lalui, pastilah akan meninggalkan bekas-bekas yang akan ditemui oleh orang-orang yang bertemu dengan kita. Dan kita diharapkan meninggalkan teladan yang terbaik. Sekali pun sederhana, kehidupan kita tetap akan menjadi berguna bagi orang lain.

Hal itulah yang coba dilakukan Lorensius Sarwoko S.P., dalam menjalani kehidupannya. Dia merupakan salah satu tokoh umat di Stasi Natar Lampung Selatan Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton, Keuskupan Tanjung Karang.

Derasnya hujan yang mengguyur semalam, Sabtu 02 Januari 2016 tak mematahkan semangat Radio Suara Wajar menjumpai Lorensius Sarwoko. Kami bertemu di Gereja St. Petrus Stasi Natar, Jalan Raya Natar Lampung Selatan.

Di Gereja Santo Petrus yang masuk dibawah Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton Keuskupan Tanjungkarang ini, Sarwoko begitu umat biasa memanggilnya memulai cerita hidupnya saat awal mula ketertarikannya menjadi pengikut Yesus.

Kesibukannya mengabdi sebagai Pegawai Negri Sipil di Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran tak membuat Sarwoko tenggelam dalam duninya sendiri. Berbagai aktifitas di luar kantor baik di lingkungan masyarakat, sekolah termasuk di gereja mewarnai kesehariannya. Walau waktu itu usianya masih tergolong muda, tapi Sarwoko “ditokohkan” karena kepedulian dan keatifannya dalam gereja.

Gereja Santo Petrus yang berdiri megah sekarang ini, temasuk hasil sentuhan bapak tiga anak ini. Berbagai jabatan penting dalam stasipun pernah dia emban, dari mulai ketua sampai prodiakon.

Di lingkungan tempat tinggalnya di Desa Pejambon Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran, Sarwoko juga dianggap tokoh masyarakat. Tentu berkat pengamalan kasih secara nyata yang dilakukannya serta usahnya membangun kerukunan antara umat beragama di desa itu, hingga terajut indah sampai sekarang.

Pengamalan kasih lewat aksi-aksi kongkrit Sarwoko juga diamalkan pada dunia pendidikan. Berawal dari keprihatinan akan sulitnya anak-anak di desanya melanjutkan pendidikan saat lulus sekolah dasar, akhirnya dia mendirikan Yayasan Pendidikan untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1983. SMP PGRI Pejambon.

Menjadi seorang Katolik di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas Muslim diakui suami Lorensia Yuni Astuti ini tidak mudah, telebih di tempat kerjanya. Pernah suatu kali karna “kekeh” mempertahankan prinsip kejujuran, dia dimutasi oleh bupati setempat kala itu di desa terpencil yang jauh dari tempat tinggalnya.

Pada akhir cerita, dia menyatakan keprihatinan pada Orang Muda Katolik (OMK) saat ini yang sibuk dengan dunianya sendiri sehinga cenderung mengesampingkan kehidupan bermasyarakat dan gereja.***

Reporter : Robert

871 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *