Permainan Tradisional Betawi

RADIO SUARA WAJAR – Permainan tradisional khas Betawi merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan yang biasa dilakukan di kalangan anak-anak Betawi bersama teman-teman mereka di waktu senggang. Namun, meski di Betawi  memiliki banyak permainan tradisional tidak semua orang mengetahui bahwa permainan-permainan itu adalah murni permainan yang lahir di  Betawi ataukah merupakan hasil akulturasia budaya dari berbagi etnis lain yang datang dan menetap di tanah Betawi.

Peralatan yang Digunakan Dalam Permainan Tradisional

Alat-alat yang digunakan dalam permainan tradisional Betawi adalah alat-alat yang biasa ditemui di lingkungan sekitar, seperti paku, karet, karung, pecahan genteng (bete) dan  bola yang dibuat dari pelepah pisang dan lain-lain. Sebagian besar  permainan-permainan itu dimainkan di ruang terbuka. Selain itu, biji-bijian seperti asam klunsu, biji melinjo, biji kemiri, biji sawo, buah pinang dan beberapa jenis biji-bijian lainnya juga dimanfaatkan untuk sebagai sarana dalam beberapa jenis  permainan seperti ; congklak, serok wali, dan pletokan. Sementara bambu dan batang pohon pinang juga dimanfaatkan untuk permainan seperti tok kadal dua batu dan panjat pinang serta meriam sundut. Intinya, anak-anak Betawi sangat kreatif dalam memanfaatkan apa yang mereka temui di lingkungan nereka tinggal.

Pola Permainan Tradisional

Dengan beragamnya etnis yang menetap di Jakarta, maka secara otomatis juga berpengaruh terhadap budaya Betawi. Para orang tua yang datang dari bermacam latar-belakang suku mengajarkan kepada anak-anak mereka pola  permainan tradisional yang berasal dari daerah mereka berasal. Selanjutnya   terjadilah interaksi antara sang anak dengan teman-temannya yang berlainan suku dan disanalah terjadi pembauran .

Permainan tradisional Betawi merupakan media hiburan yang cukup mengasyikan bagi anak-anak Jakarta. Dalam pola  permainan tradisional dikenal bermacam musim permainan seperti ; musim gundu, musim layangan, musim gangsing dan yang lainnya. Selain mengenal musim, permainan tradisional anak Betawi juga memiliki tahap dan terkadang juga menggunakan tangan kosong, bantuan alat dan media  lainnya.

1. Bola Gebok

Bola gebok adalah suatu permainan yang sangat populer di kalangan anak-anak di sekitar wilayah Ciracas maupun Pasar Rebo Jakarta Timur. Kata gebok bisa diartikan sebagai menimpuk. Sesuai namanya dalam permainan ini, si pemain akan melempar bolanya ke tiap arah sasaran. Permainan bola gebok biasa dimainkan di lapangan yang luas dengan jumlah pemain sekitar 4-5 orang berikut pula seorang wasit.

dsc_0436

Peralatan dalam Permainan Bola Gebok

Biasanya permainan bola gebok dimainkan oleh anak-anak  pada siang atau sore hari saat cuaca cerah. Peralatan utama adalah bola gebok yang dibuat sendiri. Untuk bahan yang dipakai untuk membuat bola gebok biasanya diambil dari bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal. Bahan yang digunakan adalah berupa daun atau pelepah pisang kering yang digulung-gulung hingga membentuk bola kasti. Gulungan yang berbentuk bola kemudian diikat dengan menggunakan tali.

Pola Permainan Bola Gebok

Dalam permainan bola gebok, para pemain berlomba-lomba memasukkan bola ke dalam lobang sebanyak tiga kali. Pemain yang gagal, maka ia yang menjadi sasaran gebok. Wasit bertugas untuk mengawasi bahwa bagian yang kena timpuk adalah yang sudah ditentukan. Karena jika ada pemain yang menimpuk pemain lainnya di bagian tubuh selain yang sudah ditentukan, maka ia yang akan jadi sasaran gebok.

Yang menarik dari permainan ini, jika pemain yang jadi sasaran gebok bisa menjepit bola dengan kedua belah pahanya dan memasukkan bola ke lobang peserta lain, maka peserta lain yang lobangnya dimasuki bola gebok berhak mendapat lima kali gebok dari peserta yang sebelumnya digebok.

2. Balap karung

Balap karung identik dengan perayaan hari kemerdekaan, dan permainan ini sangat dikenal dari masyarakat kota hingga perkampungan. Permainan ini benar-benar untuk kesenangan semata. Tidak hanya anak-anak yang memainkan balap karung, bahkan orang dewasa pun sangat menikmati permainan ini.

Michael theodric_BALAP KARUNGSejarah Keberadaan Permainan Balap Karung

Nama permainan ini dikenal di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tepatnya di Kelurahan Rawa Barat. Sejak jaman penjajahan Belanda, permainan ini sudah ada dan tidak diketahui persis siapa penciptanya dan kapan. Dulu, permainan ini dimainkan anak-anak usia 6-12 tahun, sebelum akhirnya orang dewasa ikut serta dalam permainan ini. Intinya,  permainan ini ada dan sudah dikenal luas. Sekalipun permainan ini mengalami masa surut di masa penjajahan Jepang.

Peralatan yang Diperlukan untuk Balap Karung

Seperti halnya para orang tua di Betawi yang terkenal kreatif dalam memanfaatkan apa yang disediakan alam untuk memenuhi kebutuhan mereka, anak-anak Betawipun tak luput mewarisi sifat orang tua mereka. Anak-anak Betawi dalam berkreatifitas memanfaatkan apa yang ada di alam atau di lingkungan sekitar untuk dijadikan sebagai bahan permainan mereka. Dalam balap karung, anak-anak Betawi memanfatkan karung beras yang sudah tidak terpakai  untuk sarana  permainan. Mereka memilih karung beras yang sesuai dengan ukuran tubuh mereka dan selanjutnya mencari area yang luas untuk bemain. Biasanya mereka akan mencari  lahan memanjang sekitar 20 meter dengan lebar 3-4 meter dan kemudian lahan ini  dibagi menjadi lima jalur.

Pola Permainan Balap Karung

Aturannya sama seperti lomba lari, namun harus di dalam karung. Peserta bisa berjalan, berlari selama dalam karung, namun meloncat adalah cara yang paling lazim digunakan untuk mencapai garis finish. Antara peserta satu dengan lainnya tidak boleh saling menghalangi atau menubruk. Permainan ini kerap mengundang tawa karena upaya masing-masing untuk menang. Justru tidak terlihat saling berkompetisi karena sesama peserta kerap terlihat saling menertawakan satu sama lain. Soal jatuh itu biasa, bangkit, berdiri, dan terus mencoba hingga sampai garis finish. Nilai kerja keras tercermin di permainan ini, di mana semua pemain berjuang mencapai garis akhir dan juga sportifitas, karena semua pemain menerima kekalahan dengan lapang dada. Sekali lagi, tidak masalah kalah atau menang dalam permainan balap karung, karena kemeriahan dan kegembiraan peserta yang utama.

3. Coko/Panjat Pinang

Coko atau panjat pinang merupakan suatu permainan dimana para pemain berlomba-lomba untuk mencapai puncak pohon pinang yang licin untuk mengambil berbagai hadiah yang tergantung disana.  Permainan panjat pinang merupakan permaianan rakyat yang kerap mengundang sorak sorai penonton  ketika menyaksikan para pemain yang kerap tergelincir untuk bisa mencapai puncak pohon pinang dan ketika  dan ketika para pemain berhasil mencapai puncak pohon pinang maka akan terdengar bunyi petasan.

1408360126978076666

Sejarah Permainan Coko/ Panjat Pinang di Betawi

Permainan coko atau yang lebih dikenal panjat pinang pada awalnya berkembang di daerah Jakarta Selatan seperti di wilayah Cilandak, Pasar Minggu, dan Kebayoran Lama. Coko merupakan istilah yang datang dari ungkapan sehari-hari orang-orang yang berada di daerah Kebayoran Lama yang memiliki pengertian “perebutan” atau main rebutan. Pada waktu itu, permainan coko sering dimainkan bila ada hajatan seperti acara perkawinan.

Dalam permainan coko tidak mengenal batasan  usia maupun gender. Siapapun bisa memainkan permainan coko atau panjat pinang. Permainan coko/panjat pinang pada masa pendudukan Jepang sempat menghilang. Namun, pada masa sekarang permainan ini menjadi permainan yang indetik dengan peringatan HUT RI di tiap tanggal 17 Agustus. Dalam permainan coko atau panjat pinang terkandung nilai-nilai yang menanamkan pentingnya kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.[1]

Pola Permainan Coko/Panjat Pinang

Permainan ini dilakukan di tanah lapang, dengan pohon pinang yang sudah dilumuri minyak agar licin. Di atas pohon terdapat lingkaran yang sengaja dibuat untuk menggantungkan hadiah. Dalam permainan ini, setiap pemain harus berlomba untuk naik ke puncak pohon pinang dan mengambil hadiah  berupa macam-macam barang seperti kelontong, sepeda dan yang lainnya.  Untuk mengurangi licin pada  batang pohon pinang biasanya para pemain akan  menggunakan abu gosok atau tali. Permainan panjat pinang ini bisa berlangsung lama dan apabila  hadiah-hadiahnya yang tergantung disana sudah hampir habis maka satu pemain hanya berhak mengambil satu hadiah.

 

2262 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *