Renungan Harian, Kamis, 3 Desember 2015

Kamis, 3 Desember 2015
Pesta St. Fransiskus Xaverius

INJIL: Markus 16:15-20

16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” 16:19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 16:20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

RENUNGAN:

Suatu kali, ada seorang pastor yang bertugas di India ketika sedang mengendarai motor di minta oleh polisi untuk berhenti. Kemudian polisi itu meminta sang pastor untuk menunjukkan surat-surat yang berkaitan dengan kendaraan bermotor di sana. Pastor itu mengenakan jaket. Ketika pastor itu membuka jaketnya, polisi itu terkejut luar biasa, karena di tubuh sang pastor itu melilit seekor ular kobra seperti ikat pinggang. Tanpa panjang lebar, polisi itu segera meminta sang pastor itu untuk segera pergi tanpa perlu menunjukkan identitasnya. Ternyata sang pastor itu baru saja dari rumah biara salah satu suster di daerah itu karena para suster takut dengan seekor ular kobra yang berkeliaran di biara mereka. Pastor itu dipanggil karena mereka tahu pastor itu tahan ular.

Injil hari ini di satu sisi menunjukkan tanda-tanda yang jelas bagi seorang yang sungguh percaya pada Yesus, namun di sisi lain tanda-tanda Injil hari ini membuat orang beriman sulit membedakan mana tanda-tanda yang dari Tuhan dan mana yang lebih cenderung pada tanda klenik. Tidak jarang kita jumpai, ada orang Katolik, atau bahkan seorang pastor misalnya, yang mengaku mempunyai kelebihan tertentu yang bisa menyembuhkan orang sakit, atau bahkan bisa mengusir setan dari tempat tertentu atau dari orang tertentu.

Kita yakin dan percaya apa yang dijanjikan oleh Yesus pada para murid yang mewartakan Injil benar akan terjadi demikian. Namun tidak jarang juga ketika ada orang yang mempunyai tanda-tanda seperti itu kita mempunyai sikap mempertanyakan kebenarannya. Yang kita pertanyakan adalah apakah benar itu berasal dari Tuhan atau justru kental dengan suasan klenik.

Dengan meneladan st. Fransikus Xaverius, satu hal yang bisa kita jadikan sebagai ukuran apakah seseorang mempunyai jiwa misionaris dari Tuhan atau jiwa misi dari dirinya sendiri yakni soal keberanian untuk meninggalkan diri sendiri demi Injil Tuhan. Meninggalkan diri sendiri menjadi sebuah ukuran yang menandakan sebuah sikap kerendahan hati yang mendalam karena menyadari bahwa dirinya adalah utusan Tuhan. Tanda-tanda yang menyertai dirinya bukan justru menjadi bentuk kesombongan diri. Namun tanda-tanda seprti yang dikatakan Yesus itu menjadi sarana untuk menyelamatkan orang lain. Tidak jarang kita jumpai seorang pewarta Injil justru kehadirannya membuat orang merasa takut dan gelisah, karena ia merasa bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Kiranya Yesus tidak menghendaki bahwa kehadiran-Nya justru membuat orang merasa takut.

Masing-masing dari kita mempunyai potensi untuk memiliki tanda-tanda dari Yesus itu. Sekarang yang perlu kira renungkan dengan sungguh adalah apakah dengan kekuatan-kekuatan itu kita menyelamatkan orang lain, atau justru membuat orang lain merasa takut. Menjadi sebuah ukuran juga apakah orang-orang yang kita layani sampai pada keyakinan pada Tuhan atau justru hanya sampai pada diri kita karena apa yang kita miliki.

Para misionaris, khususnya St. Fransiskus Xaverius, berani menjadi misionaris radikal, yakni meninggalkan kedigdayaan manusianya untuk menjadi pelayan sabda Tuhan di berbagai belahan dunia. Ia meninggalkan keluarga dan tanah kelahirannya untuk menjadi tangan Tuhan dimana Roh membawanya.

Saat ini kita juga diutus untuk menjadi misionaris. Benar bahwa kita tidak mungkin seluruhnya pergi ke tempat-tempat tertentu untuk menjadi misionaris. Namun yang bisa kita lakukan adalah menjadi misionaris hati, yakni misionaris yang mewartakan sabda Tuhan dalam hati, artinya dalam seluruh hidupnya. Tidak banyak dari kita yang mempunyai anugerah seperti dalam Injil hari ini. Namun demikian, yang menjadi ukuran kita sebagai misionaris hati adalah apakah kita membawa keselamatan pada orang lain, dan apakah orang lain melalui kita bisa sampai pada keyakinan akan karya Tuhan sendiri. Jangan bangga kalau pencapaian yang kita dapat adalah orang semakin mengagungkan diri kita sendiri, tidak sampai pada Tuhan.

DOA:

Tuhan, Yesus Kristus, Engkau mengutus para murid untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia. Ajarilah dan bantulah kami untuk menjadi pewarta sabda-Mu dimana kami berada dan tinggal. Semoga kami semakin berani menampakkan iman kami di dalam pekerjaan kami sehari-hari. Semoga juga melalui tindakan-tindakan kami, banyak orang yang semakin percaya dan mengikuti Engkau sendiri. Sebab Engkaulah jalan, hidup, dan kebenaran kami, sekarang dan selamanya. Amin.

 

411 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *