Renungan Harian, Senin, 23 November 2015

janda-miskinSenin, 23 November 2015
Senin Biasa XXXIV

INJIL: Lukas 21:1-4

Persembahan seorang janda miskin

21:1 Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. 21:2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. 21:3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. 21:4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

RENUNGAN:

Logika Kekayaan Hati

Ketika masih studi di Jogja, di daerah Papringan itu ada beberapa orang yang keliling dari biara ke biara untuk minta makan minum, minta pakaian, atau minta apa saja yang bisa diberikan oleh yang punya rumah. Tidak jarang pula yang meminta sejumlah uang dengan alasan mereka masing-masing, ada yang untuk biaya pulang kampung, ada yang untuk pengobatan anaknya, ada yang membiayai sekolah anaknya, dan macam-macam alasan lainnya.

Pernah suatu kali hal itu menjadi bahan pembicaraan komunitas. Di satu sisi ada keingingan hati untuk memberi seperti apa yang mereka minta. Namun disisi lain kami perhitungan apakah dia berbohong atau tidak. Orang yang sama sering kali datang dengan permintaan yang kadang beda namun kadang sama. Hal ini menjadi samacam perdebatan dalam komunitas. Akhirnya diputuskan jika ada yang datang minta makan-minum, langsung saja diberi jika memang ada, atau yang minta pakaian, juga langsung saja diberi kalau persediaan masih ada. Namun jika meminta sejumlah uang dengan alasan macam-macam, harus benar-benar dilihat apakah dia sungguh perlu atau hanya ngapusi.

Sebuah pertanyaan sederhana, ini logika pikiran atau logika hati? Logika Emanuel Kant mengatakan kalau mempunyai niat memberi, jangan ada perhitungan apapun, termasuk perhitungan kemungkinan dia berbohong atau tidak. Memberi ya memberi, saya memberi karena saya ingin memberi, tidak lebih tidak kurang. Tidak jarang kita memberi atau membantu orang lain baru pada taraf logika pikiran.

Logika hati hari ini diberikan oleh seorang janda yang memasukkan dua peser uang ke dalam peti. Dua peser bagi yang mempunyai sekarung peser tidak memiliki arti yang besar. Namun dua peser bagi yang hanya punya itu, tentu saja itu berarti seluruh hidupnya. Dan ini kalau direnungkan kita masih mengukur dengan logika pikiran. Bagi sang janda yang memakai logika hati, yang dia punya dua peser berarti yang diberikan yang dua peser itu. Pikirannya bukan lagi memperhatikan yang dua peser, namun hatinya memikirkan yang jauh memiliki dan bisa memberikan berpeser-peser kasih untuknya dan untuk semua orang, yakni Tuhan sendiri.

Mampukah kita senantiasa menggunakan logika hati??

DOA:

Ya Tuhan, ajari kami untuk memandang banyak hal dengan pandangan kasih janda yang memasukkan seluruh yang ia punya ke dalam peti. Bantulah kami untuk bersikap murah hati dan tulus kepada siapa saja. Bantulah kami untuk berani peduli pada sesama kami tanda berharap sebuah balasan sepadan. Semoga kami tidak takut untuk dicap sebagai orang yang murah hati. Sebab Engkaulah penyelamat kami, kini dan sepanjang masa.
Amin.

1104 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *