Pakaian Adat Suku Asmat: Antara Alam dan Manusia Sejati

1530_Pakaian_adat_masyarakat_Suku_Asmat_merepresentasikan_kehidupan_mereka_yang_lekat_hubungannya_dengan_alam

Pakaian adat masyarakat Suku Asmat merepresentasikan kehidupan mereka yang lekat hubungannya dengan alam

RADIO SUARA WAJAR – Selain terkenal dengan seni ukirnya yang adiluhung, Suku Asmat juga memiliki pakaian tradisional yang khas. Seluruh bahan untuk membuat pakaian tersebut berasal dari alam. Tidak salah jika menganggap pakaian Suku Asmat merupakan representasi kedekatan mereka dengan alam raya.

Tidak hanya bahan, desain pakaian Suku Asmat pun terinspirasi dari alam. Pakaian laki-laki Suku Asmat, misalnya, yang dibuat menyerupai burung dan binatang lain yang dianggap melambangkan kejantanan. Sementara, rok dan penutup dada kaum perempuan menggunakan daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.

1530_Hiasan_kepala_Suku_Asmat_yang_terbuat_dari_daun_sagu,_bagian_atasnya_dilengkapi_bulu_burung_kasuari._Hiasan_ini_biasa_digunakan_oleh_kaum_laki-laki

Hiasan kepala Suku Asmat yang terbuat dari daun sagu, bagian atasnya dilengkapi bulu burung kasuari. Hiasan ini biasa digunakan oleh kaum laki-laki

Secara umum, pakaian laki-laki dan perempuan Suku Asmat tidak terlalu berbeda. Pada bagian kepala, dikenakan penutup yang terbuat dari rajutan daun sagu dan pada sisi bagian atasnya dipenuhi bulu burung kasuari. Bagian bawah dan bagian dada (untuk perempuan) berupa rumbai-rumbai yang dibuat menggunakan daun sagu.

Pakaian adat tersebut belum sempurna jika tidak dilengkapi berbagai aksesori, juga menggunakan berbagai bahan yang tersedia di alam. Aksesori yang biasa dijadikan pelengkap pakaian tradisional Suku Asmat adalah hiasan telinga, hiasan hidung, kalung, gelang, dan tas. Hiasan telinga terbuat dari bulu burung kasuari. Bulu burung kasuari yang digunakan untuk hiasan telinga ukurannya lebih pendek dibanding bulu burung kasuari yang digunakan pada penutup kepala.

 

1530_Hiasan_kepala_Suku_Asmat_yang_terbuat_dari_daun_sagu._Hiasan_ini_hanya_digunakan_saat_diadakan_upacara_adat

Hiasan kepala Suku Asmat yang terbuat dari daun sagu. Hiasan ini hanya digunakan saat diadakan upacara adat

Hiasan hidung biasanya hanya dikenakan oleh kaum laki-laki. Hiasan ini terbuat dari taring babi atau bisa dibuat dari batang pohon sagu. Hiasan hidung yang dikenakan kaum laki-laki memiliki dua fungsi: simbol kejantanan dan untuk menakuti musuh. Sementara, aksesori kalung dan gelang dibuat dari kulit kerang, gigi anjing, dan bulu burung cendrawasih.

Esse (sebutan masyarakat Suku Asmat untuk tas) merupakan aksesori yang penting. Selain berfungsi sebagai wadah penyimpan ikan, kayu bakar, serta berbagai hasil ladang, esse juga dipakai ketika diadakan upacara-upacara besar. Orang yang mengenakan esse saat diadakan upacara adat dianggap sebagai orang yang mampu menjamin kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam berbagai upacara adat, masyarakat Suku Asmat biasanya melengkapi penampilan mereka dengan gambar-gambar di tubuh. Gambar yang didominasi warna merah dan putih tersebut konon merupakan lambang perjuangan untuk terus mengarungi kehidupan. Warna merah yang digunakan berasal dari campuran tanah liat dan air, sementara warna putih berasal dari tumbukan kerang.

1530_Hiasan_hidung_Suku_Asmat_yang_biasa_digunakan_oleh_kaum_laki-laki_sebagai_lambang_kejantanan

Hiasan hidung Suku Asmat yang biasa digunakan oleh kaum laki-laki sebagai lambang kejantanan

Seiring pengaruh modernisasi dan budaya dari luar, sebagian masyarakat Suku Asmat mulai meninggalkan pakaian tradisional mereka. Hanya masyarakat Suku Asmat yang tinggal di pedalaman yang masih menggunakan pakaian tradisional tersebut.(indonesiakaya.com)

 

1292 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *