Agustinus Paryono : “Tak Seorang Pun Bisa Memberikan Sesuatu Kalau Diri Sendiri Tidak Memiliki”

Agustinus Paryono (69) dan Yulia Mariati (58) di kediamannya Jalan Sam Ratulangi Gang Dahlia Dua No.1 Gedong Air, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Sabtu 31Oktober 2015.

Agustinus Paryono (69) dan Yulia Mariati (58) di kediamannya Jalan Sam Ratulangi Gang Dahlia Dua No.1 Gedong Air, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Sabtu 31 Oktober 2015.

BANDAR LAMPUNG, POTRET HARI INI – Bagi Anda umat Kotolik, khususnya di Paroki Sidomulyo, Unit Paroki Bakauheni, Katedral, dan Kedaton, tentunya tidak asing dengan sosok pria ini. Pada rentan waktu 1967-1974 pernah melayani Anda atau orang tua Anda pada saat itu mengajar dan mewartakan Sabda Allah, sebagai Katekis Keuskupan Tanjungkarang.

Agustinus Paryono (69), adalah sosok pejuang tanggguh. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Katekis dia selalu “total”, tak perduli panas, hujan, badai.

Di kediamannya Jalan Sam Ratulangi Gang Dahlia dua No.1 Gedong Air, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Pria kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta 2 Juli 1946 ini menyambut ramah kedatangan Radio Suara Wajar pada Sabtu 31 Oktober 2015.

Usia senja tak membuat semangatnya surut, terlihat saat Suara Wajar menyodorkan mic recorder, dengan lantang dan energik, Agustinus Paryono mulai bercerita perjalanan hidupnya.

Kisahnya dimulai saat pertama kali mengikuti Yesus. Pada waktu itu, dia masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Rakyat (SR). Kemudian pada 24 September 1954 oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Paryono menerima Sakramen Krisma di Gereja Paroki St. Maria Lourdes Promasan, Kulon Progo, Yogyakarta.

Karena kedekatan dengan para imam yang melayani umat di stasinya kala itu, Paryono kecil menggebu-gebu ingin menjadi seorang Pastor. Cita-citanya ingin menjadi seorang imam diperjuangkannya dengan masuk sekolah di seminari pertama seusai lulus dari Sekolah Rakyat.

Tapi Tuhan berkehedak lain terhadap jalan hidup Bapak tiga anak ini. Menjadi seorang pengajarlah yang Digariskan Tuhan pada dirinya. Atas desakan Romo Kepala Paroki Katedral Kristus Raja kala itu untuk segera mencari pasangan hidup, Paryono akhirnya menyunting Yulia Mariati (58) pada 31 Desember 1974 sebagai pendamping hidupnya hingga sekarang.

Memang terkadang dalam perjalanan hidup ada kalanya kita menemukan kesulitan, ada senang dan ada sedih. Layaknya sebuah jalanan tidak selalu lurus, kadang berliku, kadang menemukan tanjakan, dan lain sebagainya. Begitulah yang dialamai suami Yulia Mariati ini. Karena berselisih paham dengan pihak Keuskupan Tanjungkarang waktu itu pada tahun 1976, Paryono diberhentikan menjadi Katekis. Tapi walau diberhentikan, Paryono tak patah arang, dia selalu mengajar dan mewartakan Sabda Allah di lingkungan tempat tinggalnya.

Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang dimilikinya, Agustinus Paryono akhirnya memutuskan menjadi pengajar pada salah satu sekolah di Kota Bumi, Lampung Utara selama lima tahun. Sampai akhirnya tahun 1983 Yayasan Dharmawiyata Bandar Lampung yang saat ini berganti nama menjadi BPK Penabur Bandar Lampung menawarkan padanya menjadi guru tetap. Disinilah sekolah inilah, Paryono mendedikasikan hidupnya pada dunia pendidikan selama dua puluh tiga tahun.

Dalam hidup pria lulusan Akademi Kateketik Yogyakarta 1967 ini, banyak pengalaman berkesan saat bertugas menjadi Katekis di berbagai stasi pada wilayah tugasnya. Berkat Tuhan dirasakannya teramat sangat melimpah.

Sistem Penggembalaan yang berubah cukup drastis di Keuskupan Tanjungkarang menurut warga lingkungan Santo Paulus Stasi Katedral Kristus Raja Bandar Lampung menjadi salah satu faktor banyak ditemuinya umat katolik yang “lompat pagar”, khususnya orang muda. Masukan-masukan positif pun dilontarkannya pada kesempatan ini. Pria yang pada 31 Desember 2015 akan memperingati ulang tahun pernikahannya ini menaruh harapan besar bagi penerapan Sistem Penggembalaan di Keuskupan Tanjungkarang.

Sementara itu, Yulia Mariati, istri yang hampir genap 41 tahun mendampingi Agustinus Paryono mengungkapkan rasa kagumnya akan kecintaan mengajar suaminya. Yulia pun mengaku tidak pernah melarang saat suami tercintanya menjalankan tugas mewartakan Sabda Allah.

Ditemui terpisah, salah satu umat lingkungan Santo Paulus Stasi Katedral Kristus Raja Bandar Lampung, Monica Puji Rahayu (54) membeberkan bahwa Agustinus Paryono dikenal sosok yang total dalam pelayanan, rajin, tegas dan menjadi panutan di lingungannya.***

Reporter : Robert

697 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *