Kisah Pendekar Wanita dari Palasari, Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih

Dra. Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih, S.Pd, M.Pd, di halaman kebun tanaman belakang Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwista Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2015.

Dra. Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih, S.Pd, M.Pd, di di kebun tanaman kesayangannya yang terletak di belakang Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwista Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2015.

BANDAR LAMPUNG, POTRET RADIO SUARA WAJAR — Awalnya tidak terbesit sedikitpun pada benak Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih kala itu, menjadi guru. Tapi Tuhan menghendaki lain terhadap jalan hidup wanita kelahiran Palasari, Bali, 07 Juni 1959 ini. Tuhan menuntun Ayu begitu dia akrab disapa, menjadi seorang guru, profesi yang sangat mulia. Jalan hidup yang “Dimau” Tuhan inilah yang mengantarkan Ayu, mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwista pertama di Bumi Lampung.

Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih merupakan anak kesebelas dari tigabelas bersaudara. Nama Charitas, adalah pemberian seorang biarawati dari Belanda yang diberikan pada kedua orangtua Ayu kala itu. Palasari adalah satu desa besar, yang mayoritas masyarakatnya menganut Katolik. Menurutnya, Palasari adalah nama yang diberikan oleh mendiang ayahnya.

Masa TK, SD dan SMP, dihabiskan Ayu di tanah kelahirannya di Palasari, sedangkan SMA di Siangaraja, Ibukota Kabupaten Buleleng, Bali. Sampai pada akhirnya, dia meninggalkan tanah kelahirannya saat menempuh pendidikan ke Perguruan Tinggi.

Jakarta menjadi tempat berlabuh dirinya untuk menimba ilmu. Di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta yang saat ini bermetamorfosisi menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sejak akhir tahun 1990-an, sejumlah IKIP negeri diubah statusnya menjadi universitas. Jurusannya pun tidak terbatas hanya dalam bidang pendidikan, tetapi merambah ilmu murni, teknik, dan program profesi lainnya. Dengan mengambil Jurusan Tata Boga inilah yang nantinya mengantar Ayu “terdampar” di Bumi Ruwa Jurai.

Dirasakan Ibu lima anak ini, Tuhan telah menulis garis hidup begitu luar biasa. Karya Tuhan dirasakan begitu besar dalam hidupnya saat memulai karier sebagai pegawai negri sipil pada tahun 1990 di SMAN 3 Bandar Lampung. Atas besarnya karya Tuhan dalam hidupnya inilah yang membuat istri dari P. Nyoman Giri, bertekad akan berbuat lebih dari pada orang lain untuk kepentingan orang banyak.

Profesi guru dirasa sangat tepat diberikan Tuhan, walaupun dulu dirinya tidak menghendaki. Dengan menjadi guru, menurut wanita yang yang menghabiskan sekolah dasar di SKKP Palasari ini, sehari-hari kehidupannya dipenuhi kebahagiaan.

Mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwista diungkapkan Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih, berawal dari mimpi besarnya. “Begitu orang ngomong pariwisata, orang harus sudah tahu Kridawisata. Begitu orang ngomong Kridawisata ini adalah pariwisata. Jadi kedua ini harus seimbang” pungkasnya. Tuhan pun menjawab doa Ayu, untuk mewujudkan mimpi besarnya ini setelah sepuluh tahun memohon dalam doa yang dipanjatkan setiap hari.

Dra. Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih, S.Pd, M.Pd, (kanan) bersama salah satu guru SMK Kridawista Puji Suprihatin, di Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2015.

Dra. Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih, S.Pd, M.Pd, (kanan) bersama salah satu guru SMK Kridawista Puji Suprihatin, S.T., di Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2015.

Pada awal-awal pendirian sekolah impiannya ini, dirasakan begitu berat. Hal pertama yang dilakukan Ayu adalah pembentukan karakter guru. Pekerjaan ini bukan hal mudah. Ia ingin, guru di Kridawisata terbentuk karakter melayani dengan tulus dan cinta kasih. Baru jika guru sudah memiliki karakter ini, dia wajib menularkan pada siswa-siswi didiknya.

Ayu saat ditemui Radio Suara Wajar pada Sabtu 10 Oktober 2015 ini membeberkan, konsep dan sistem sekolah di Kridawisata berbeda dengan sekolah kebanyakan. Karena di Kridawisata, terdapat unit produksi yang dijalankan oleh sekolah, yakni hotel. Sehingga siswa dapat mengaplikasikan langsung apa yang didapatkan dari para pengajar.

Menurut Ayu, saat ini, Kridawisata terbagi menjadi tiga bidang, yakni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Lembaga Kursus dan Pelatihan (LPK) dan Unit Produksi Hotel. Ketiganya berada dalam satu kawasan di Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung.

Saat ini SMK Kridawisata menjadi kebangaaan dirinya, gereja dan masyarakat, karena sukses meraih predikat tertinggi untuk akreditasi sekolah dari pemerintah yakni A. Saat ini Kridawisata memiliki jumlah 180 siswa dan LPK sebanyak 100 siswa.

Bagi siswa Kridawisata yang hendak Praktek Kerja Lapangan (PKL) diakui Ayu tidak memiliki banyak kesulitan untuk mencarikan tempatnya, karena hotel-hotel di tanah air bahkan mancanegara telah melakukan perjanjian kerjasama dengan pihaknya. Bahkan untuk program Diploma, tidak hanya tersedia satu tahun (D1) tapi terdapat juga program untuk tiga tahun (D3). Alasan didirikan D3 menurut Ayu, agar mahasiswa dan mahasiswinya dapat belajar dan mempunyai pengalaman hidup berdampingan dengan warga negara lain.

Berdarah-darah, begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan mewujudkan Kridawisata. Karena semua harus dikerjakan dirinya dan suami. Sampai-sampai merogoh kantong pribadi untuk pembelian lahan, pembangunan gedung dan oprasional sekolah yang kala itu hanya memiliki 11 siswa. Tapi yang patut disyukuri olehnya adalah dari perjalanan selama tiga belasan tahun yang genap pada bulan Juni 2015, pamor Kirdawisata mulai mencuat. Hal ini terlihat dari jumlah pendaftar di Kridawisata yang telah memenuhi kuota, di tengah situasi sekolah-sekolah lain yang kekurangan siswa.

Dra. Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih, S.Pd, M.Pd, berharap agar masyarakat Lampung tahu, bahwa Kridawista adalah milik masyarakat. Dia dan suami hanya sebagai “Pemrakarsa”. Menurut Ayu, di sekolah Kridawisata yang didirikannya adalah tempat untuk mengembangkan cinta kasih dan Karya Tuhan.

“Dan saya sampaikan yang mungkin akan melanjutkan tempat ini, yang tidak boleh berubah adalah visi dan misi. Itu harus tepat hidup. Ibu Ayu boleh mati, Pak Nyoman boleh mati, tapi visi misi harus tetap ada. Bahwa karya ini adalah karya sosial”

Menurut wanita yang saat ini hidup bersama keluarganya di Jalan Alam Gaya No. 45 BTN II Way Halim Permai Bandar Lampung ini, pejuangan yang berarti menurut Ayu ialah ketika kita dapat berkarya bagi sesama yang sangat membutuhkan uluran tangan. Maka dari itu, pada setiap kelas di Kridawisata selalu memberikan beasiswa bagi para siswa yang tidak mampu. Dalam memberikan beasiswa di sekolahnya, Ayu tidak pernah memandang latar belakang suku, agama dan apapun itu, niatnya hanya tulus ingin membantu sesama yang membutuhkan.

Selain aktif disekolahnya, Ayu juga aktif di kegiatan gereja. Salah satu pengalaman yang berkesan ialah saat dirinya mengajukan diri untuk menjadi ketua lingkungan di Santa Anna, Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton, Bandar Lampung. Tugas menjadi ketua lingkungan menurut dia bukan perkara mudah, karena bertanggung jawab membawa umat ke Surga.

Wanita yang sempat menempuh pendidikan di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKP) Palasari ini juga mempunyai dua anak spesial. Saat ini masing-masih masih berumur lima dan tiga tahun. Siapakah anak ini?

Agata Ratih Wilanti, 19 tahun (kiri) dan Budiman (20) para alumni SMK Kridawisata saat berkunjung ke sekolah di Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2015.

Agata Ratih Wilanti, 19 tahun (kiri) dan Budiman 20 tahun (kanan), para alumni SMK Kridawisata saat berkunjung ke sekolah di Jalan Urip Sumoharjo Gang Prajurit No. 1, Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2015.

Ditanya terkait dunia pendidikan anak di Lampung yang beberapa waktu lalu tercoreng dengan adanya tawuran antar pelajar Sekolah Dasar (SD), Ayu merasa sangat sedih. Menurutnya, orangtua harus memberikan pendampingan dengan baik. Orantua dan guru harus mewariskan hal-hal yang positif kepada anak dan siswa. Kebenaran menurut Ayu adalah ilahi. Maka dari itu, di sekolah yang dia pimpin para siswa diajarkan untuk selalu berpegang teguh, taat dan setia pada kebenaran serta kejujuran.

Dengan berpegang teguh pada kebenaran menjadi spirit hidup Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih sampai dengan sekarang. Karya untuk dunia pendidikan dan membantu sesama yang membutuhkan menutnya adalah karya Tuhan yang dititipkan dalam tangannya.***

Features Radio : Kisah “Pendekar” Wanita dari Palasari, Charitas I Gusti Ayu Chandrawasih akan ditayangkan saat ini pada menu acara “Potret Suara Wajar” malam ini, Minggu 11 Oktober 2015 pukul 19.00 – 20.00 wib.***

Reporter : Robert

1378 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *