Renungan Harian Selasa, 6 Oktober 2015

12096221_10204812516980499_7764032167734389822_nSelasa, 6 Oktober 2015
Hari Biasa Pekan Biasa XVII

Injil: Luk 10:38-42

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.”

RENUNGAN:

Kemarahan dapat menjadi sebuah masalah jika kita memperkenankan kemarahan kita itu mengalahkan kemampuan kita untuk berpikir dengan jernih. Marta “marah”, namun dia juga kelihatannya tergelincir ke dalam dosa. Dia berpikir sungguh adillah jika Maria, saudaranya yang perempuan, harus bersama-sama melakukan pekerjaan yang diperlukan guna melayani para tamu yang datang ke rumah mereka untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Maka Marta berkata kepada Yesus, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (Luk 10:40).

Memang tidak buruklah untuk mengungkapkan “kemarahan” kita – dengan tegas namun dengan kelembutan hati – pada saat kita menghadapi sesuatu yang salah. Namun kita harus berhati-hati untuk tidak tergelincir ke dalam sejenis pembenaran diri-sendiri yang secara sederhana berasumsi bahwa apa yang kita ketahui adalah yang terbaik atau paling benar. Kita tidak boleh lupa bahwa kadang-kadang apa yang penting bagi kita bukanlah yang paling penting bagi Allah. Marta kiranya akan belajar setelah mendengar penjelasan Yesus “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.”

Mungkin baik kalau kita selalu ingat akan satu hal ini bahwa sebuah rumah yang sangat bersih dan teratur tidaklah sama pentingnya dengan damai-sejahtera, cinta kasih, dan sukacita. Soal “damai sejahtera-cintakasih dan sukacita” adalah soal orang beriman yang menghayati imannya secara mendalam dan bukan semata-mata apa yang terlihat “bersih dan teratur”.

DOA:

“Ya Roh Kudus, jikalau aku menjadi “marah”, ingatkanlah diriku untuk memohon kepada-Mu agar memimpinku ke dalam kebenaran, sehingga dengan demikian aku dapat mengungkapkan kemarahanku dengan rendah hati, mengakui kesalahanku. Amin.”

 

760 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *