Sinode Beri Harapan Bagi Gereja di Asia Tenggara

0930h

Jose Tale, ketua Couples for Christ cabang Filipina.

RADIO SUARA WAJARSidang Umum Biasa Ke-14 dari Sinode Para Uskup akan berlangsung pada 4-25 Oktober di Vatikan. Lebih dari 360 peserta termasuk 18 pasangan suami-isteri dari segala penjuru dunia akan menghadiri acara tersebut dan membahas “panggilan dan misi keluarga dalam gereja dan dunia kontemporer.” Dalam serangkaian feature, ucanews.com mengeksplorasi berbagai masalah dan tantangan pastoral dari para keluarga kontemporer di seluruh wilayah yang kami liput. Feature kali ini mengamati Asia Tenggara.

Jose Tale adalah seorang pengacara dengan gaji yang menggiurkan. Ia bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Sedangkan isterinya, Babylou, bekerja di sebuah bank.

Ada kisah cinta di antara mereka yang bersemi saat mereka masih anak-anak. Kala itu mereka tinggal di sebuah kota yang sepi: Dumaguete. Kota ini terletak di Propinsi Negros Oriental, Filipina bagian tengah. Mereka tidak pernah ragu bahwa cinta mereka pada akhirnya akan membawa mereka ke depan altar Tuhan.

Karir dan peluang untuk maju membawa mereka berdua ke Manila pada tahun 1980-an. Dan pada tahun 1986, Joe dan Babylou diajak untuk bergabung dengan Couples for Christ.

Awalnya, pasangan yang berbahagia dan sejahtera itu tidak tertarik untuk bergabung dengan organisasi itu. “Kami punya segalanya,” kata Joe Tale. Namun panggilan itu terjadi terus menerus, dan pasangan itu pun akhirnya bergabung.

“Saya kehabisan alasan … Itu terjadi ketika saya kira Roh Kudus sungguh menyentuh kami. Ada banyak hal untuk dipelajari dan begitu banyak hal untuk dikembangkan,” katanya.

Sekitar 29 tahun telah berlalu. Kini Joe Tale menjadi ketua gerakan awam Katolik internasional itu. Gerakan ini merupakan satu-satunya di Asia – dari 122 kelompok di seluruh dunia – yang diakui oleh Vatikan.

Organisasi itu mengikuti pertemuan-pertemuan persiapan menjelang Sinode Para Uskup tentang keluarga yang akan digelar Oktober nanti. Tapi Joe Tale tidak yakin berapa besar “pengaruh institusi” yang akan dimiliki oleh kelompok itu.

Namun ia merasa yakin bahwa keluarga Katolik berada di tempat yang baik mengingat penekanan Paus Fransiskus tentang peran umat awam dan keluarga dalam pernyataannya baru-baru ini.

“Dalam prakteknya, [Paus] bahkan memberi umat awam peran yang lebih besar,” kata Joe Tale.

Krisis dalam keluarga

Berbagai persoalan akan dibahas dalam sinode itu, khususnya ketika pertemuan ini sampai pada realitas di lapangan.

“Kita lihat sekarang juga pengaruh-pengaruh perkembangan kehidupan rumah tangga, ada juga krisis dalam rumah tangga, adanya perceraian,” kata Uskup Larantuka Mgr Fransiscus Kopong Kung, ketua Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

“Kita bersama-sama, sebagai Gereja, ikut dalam suatu keprihatinan,” katanya, seraya menambahkan bahwa sinode mendatang “akan berbicara tentang unit yang paling penting dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.”

Uskup Kopong Kung mengatakan bahwa Gereja harus mencari jalan, dan bukan sekedar solusi, terhadap berbagai tantangan yang dihadapi keluarga “dalam konteks pastoral.”

Prelatus itu juga mengatakan bahwa di Indonesia, adat setempat memainkan peran yang signifikan dalam perkawinan. Tantangan bagi Gereja adalah meyakinkan pasangan Katolik untuk menikah di gereja.

“Bukan itu menghapus urusan adatnya. Adat boleh diurus sesudah nikah,” katanya.

Ditambahkan, “tantangan” lainnya adalah adanya kawin campur.

“Kita melihat ini sudah menjadi kenyataan yang harus secara pastoral kita hadapi seperti apa supaya kita tidak menolak, walaupun itu bukan ideal,” kata Uskup Kopong Kung.

Ekspektasi dari lapangan

Sebulan menjelang pertemuan para uskup di Roma, berbagai ekspektasi muncul di tingkat keuskupan di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Pastor Hyginus Myint Soe, kanselor Keuskupan Agung Yangon, menginginkan adanya persyaratan dan kewajiban bagi pasangan Katolik yang menikah lagi untuk diklarifikasi.

“Kami mengharapkan lebih banyak pedoman dari sinode ini,” kata Pastor Myint Soe.

Ia mengatakan bahwa ada “pengurangan nilai-nilai keluarga” di Myanmar akibat dari kemiskinan dan ketidakadilan yang disebabkan oleh gangguan politik dan ekonomi di negara tersebut.

“Keluarga adalah Gereja rumah dan landasan bagi evangelisasi, maka meningkatkan nilai-nilai keluarga itu sangat krusial,” katanya.

Sebuah isu khusus bagi Myanmar adalah undang-undang kontroversial yang berkaitan dengan ras dan agama.

“Gereja perlu melakukan studi terhadap undang-undang ini dan menjalankan rencana pendidikan bagi umat Katolik,” lanjutnya.

Di Kamboja, di mana sebuah komunitas Katolik yang kecil tengah berusaha membangun kembali setelah tergerus selama masa Khmer Merah yang berlangsung bertahun-tahun, sinode itu tidak akan berdampak banyak di lapangan, jelas Pastor Antonysamy Susairaj, administrator apostolik Kompong Cham.

“Dalam masyarakat Kamboja, Gereja itu merupakan Gereja yang sangat kecil. Kehidupan Gereja ini bukanlah apa yang akan dibicarakan dalam sinode.”

“Di sini, orang-orang berfokus pada bagaimana mereka akan belajar, apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan atau tidak, bagaimana mereka akan bekerja: inilah diskusi dari negara-negara yang sedang berkembang,” katanya.

0930i

Para pemimpin dari kelompok antaragama memimpin perayaan ulang tahun ensiklik Humanae Vitae tahun 2013.

Realitas lainnya yang mempengaruhi keluarga-keluarga di Asia adalah migrasi. Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila menggambarkannya sebagai “bentuk lain dari perpisahan.”

“Ini bukan perpisahan yang tidak menyakitkan tapi perpisahan yang menyakitkan,” katanya.

“Maka kami bertanya, ‘Bentuk pelayanan pastoral seperti apa yang bisa kami berikan kepada pekerja (kontrak) supaya mereka tetap setia kepada keluarga mereka … dan apa yang bisa kami lakukan untuk mereka yang ditinggalkan?’”

Couples for Christ telah berusaha mengatasi isu migrasi.

“Kami sudah menjangkau [keluarga-keluarga migran] tanpa mengurangi ajaran Gereja,” kata Joe Tale, seraya menambahkan bahwa sejumlah migran sudah biasa memulai keluarga baru di negara-negara lain.

Relevansi dari sinode

Joe Tale mengatakan bahwa sinode mendatang menjadi sangat penting bagi umat awam seperti dia yang terlibat dalam gerakan pembaruan keluarga.

“Ini sangat tepat,” katanya, seraya menyinggung perkembangan akhir-akhir ini terkait berbagai isu tentang keluarga.

Joe Tale berharap bahwa sinode itu akan menghasilkan “pedoman terbaru bagi perkawinan dan keluarga” yang akan membantu umat Katolik dalam menanggapi perkembangan akhir-akhir ini terkait berbagai isu seperti tentang perkawinan sejenis dan perceraian.

“Yang sangat jelas adalah serangan terhadap keluarga sangat intensif,” kata Joe Tale, seraya menambahkan bahwa pedoman-pedoman baru sangat dibutuhkan.

Uskup Daet Mgr Gilbert Garcera, ketua Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Filipina, mengatakan bahwa sinode itu merupakan “peluang bagi masyarakat Asia … untuk didengarkan.”

Prelatus itu menambahkan bahwa para delegasi Asia akan mempersembahkan “harapan yang dibutuhkan dunia, yakni masih banyak pasangan suami-isteri di Asia dan kaum muda yang memberikan kesaksian akan nilai-nilai keluarga Kristiani.”

Tidak ada perubahan

Uskup Kopong Kung mengatakan bahwa tidak akan ada perubahan dalam ajaran Gereja tentang perkawinan meskipun ada realitas seperti perceraian dan perkawinan sejenis.

“Kita tidak bicara soal melunak. Tapi kita bicara soal pastoral,” kata prelatus itu, seraya menambahkan “Gereja tetap berpegang pada ajaran resmi.”

Ada tantangan-tantangan pastoral, katanya, seperti Komuni Kudus bagi pasangan Katolik yang berpisah atau menikah lagi.

“Tidak boleh kita pandang bahwa orang-orang ini di luar Gereja. Ini juga adalah anggota Gereja yang punya problem,” kata Uskup Kopong Kung.

Sinode itu akan membahas tantangan-tantangan dan realitas ini. “Kita bicara hal-hal praxis pastoral. Keluarga-keluarga seperti ini harus dibuat apa?”

“Belas kasih Allah itu juga terbuka bagi siapa pun. Bagaimana praxis pastoralnya itu kemungkinan besar berbeda-beda sesuai dengan kasus di tiap-tiap keluarga,” kata prelates itu.

Pastor Yohanes Purbo Tamtomo dari tribunal perkawinan di Keuskupan Agung Jakarta mengatakan bahwa “tantangannya adalah mengembangkan pendampingan keluarga.” Dikatakan, Gereja sudah memiliki program Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), “tapi setelah itu kayak orang diajari berenang, terus dilepas di lautan bebas.”

“Perlu ada pendampingan lanjut, semacam ongoing formation dalam berumah tangga,” katanya.(ucanews.com)

 

550 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *