Perjuangan Romo Roy Dalam Menggapai Cita-Cita Menjadi Gembala Umat

RD Philipus Suroyo, Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Tanjungkarang, di ruang kerjanya di Pastoran Telukbetung, Bandar Lampung (19/09).

RD Philipus Suroyo, Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Tanjungkarang, di ruang kerjanya di Pastoran Maria Ratu Damai Telukbetung, Bandar Lampung (19/09).

BANDAR LAMPUNG, POTRET RADIO SUARA WAJAR — Menerapkan ajaran yang tertuang pada injil dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mudah. Apalagi sampai diejawantahkan pada laku kita dalam pergaulan keseharian, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Disadari atau tidak, tindak tanduk kita dalam pergaulan dengan sesama dinilai bahkan bisa jadi ditiru jika “diamini” oleh orang-orang disekitar kita. Dalam hal ini perilaku kita yang mencerminkan murid Yesus dengan hukum kasihnya, melayani dan mencintai sesama dengan ketulusan hati mendalam. Apalagi itu adalah anak kecil yang seperti diketahui, sangat mudah untuk meniru apa yang dilakukan orang-orang disekitarnya.

Nah, keteladanan dari seorang “idola” inilah yang menumbuhkan benih-benih panggilan pada diri RD Philipus Suroyo (47). Romo Roy bagitu dia akrab dipanggil dengan senyum lebar menyambut kedatangan Suara Wajar semalam (19/09) di ruang kerjanya di Pastoran Maria Ratu Damai Jalan Ikan Kakap No. 04 Telukbetung, Bandar Lampung.

Romo Diosesan Keuskupan Tanjungkarang ini tak canggung, menceritakan latar belakang menjadi seorang imam. Roy kecil pada waktu duduk di bangku SMP sangat “mengidolakan” seorang romo misionaris yang melayani umat di tanah kelahirannya di Stasi Patok Sidoharjo Kecamatan Waypanji, Kabupten Lampung Selatan.

Benih-benih panggilan diakui Romo yang kini aktif di Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Tanjungkarang ini mulai tumbuh kala itu. Romo Vanleroop Hadi Prawiro, SCJ, diakui anak bungsu dari enam bersaudara ini, menjadi salah satu tokoh penting pada garis tangan kehidupannya.

Mewujudkan cita-citanya untuk menjadi imam diakui putra bungsu dari pasangan Paulus Sumorejo dan Maria Kantiem ini, penuh liku serta “berdarah-darah”. Saat rasa untuk mewujudkannya berkobar-kobar, dengan yakin dia memutuskan untuk mendaftar di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Nah disinilah awal mula jalan menggapai impiannya terkikis.

Karna kebobolan pada “menit-menit” awal, membuat Roy mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi Imam. Tanpa berlama-lama, Roy pun mengubah haluan cita-cita barunya yakni, menjadi seorang dokter gigi. Nah, saat menempuh pendidikan di SMA Xaverius Pringsewu, banyak kejadian hidup yang menumbuhkan kembali keinginannya menjadi seorang imam. Dan pada akhrinya Roy memutuskan untuk menempuh pendidikan di sekolah yang dapat mengantarkan cita-citanya tersebut.

Saat telah usai menempuh pendidikan di Sekolah Seminari Tinggi Pematangsiantar, Sumatera Utara dan menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) “badai hidup” kembali menerpa. Roy goyah dan kembali diuji. Bayangan sosok wanita yang disukainya sejak dibangku SMP menjadi pemicunya. Dan pada akhirnya ia diperkenankan untuk menjalani extra domus. Extra domus ialah satu situasi dimana seorang frater diberi kesempatan tinggal di luar seminari untuk jangka waktu tertentu dalam rangka pembinaan.

Extra domus yang diberikan oleh Uskup Keuskupan Tanjungkarang kala itu, Mgr. Andreas Henri Susanto, SCJ , dimanfaatkan Roy untuk mencicipi kerasnya kehidupan di Ibukota DKI Jakarta. Pengalaman hidup di Jakarta inilah, membuat Roy kembali dikuatkan untuk memilih jalannya menjadi Imam Diosesan di Keuskupan Tanjungkarang. Dan pada akhirnya pada 12 Januari 2000 dia ditahbiskan menjadi Imam Diosesan bersama lima imam lainnya di GSG Way Halim Bandar Lampung.

Menjadi seorang gembala seperti “imam idolanya” saat kecil yakni Romo Vanleroop Hadi Prawiro, SCJ terus digelorakan sampai saat ini.

“Kebahagian sejati adalah kalau saya bisa menyerahkan dalam kondisi apapun kepada Tuhan melalui pengabdian dan pelayanan yang menguatkan, meneguhkan, juga menggembirakan bagi orang lain”. Itulah motto hidup RD Philipus Suroyo yang digunakaannya sebagai senjata untuk menangkal segala godaan yang sifatnya duniawi dalam perjalanannya setia hidup sebagai gembala umat.

Features Radio : “Perjuangan Romo Roy Dalam Menggapai Cita-Cita Menjadi Gembala Umat” akan ditayangkan pada menu acara “Potret Suara Wajar” edisi Minggu 20 September 2015 pukul 19.00 wib.***

Reporter : Robert

1484 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *