Renungan Harian Selasa, 25 Agustus 2014

25 agustSelasa, 25 Agustus 2015
Hari Biasa Pekan Biasa XXI

Injil: Mat 23:23-26

Pada suatu hari, Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi: ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”

RENUNGAN:

Orang tua akan dikatakan gagal bila tidak berhasil mengajar anak-anak mereka tentang integritas, rasa ingin tahu, ambisi, dan bahkan makna kehidupan itu sendiri. Adalah suatu ketidakadilan untuk menekankan perilaku eksternal – yang kelihatan orang lain – namun mengabaikan hidup batiniah. Apakah orang tua itu seperti orang Farisi dalam Injil hari ini?

Orang-orang Farisi itu mengajar orang-orang untuk memberi bobot lebih berat kepada aspek-aspek praktek keagamaan yang kurang penting daripada perintah sentral Allah untuk memperlakukan orang-orang lain dengan belas kasih – “nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” , seperti digambarkan oleh Yesus (Mat 23:24).

Kerasnya teguran Yesus menunjukkan betapa serius Allah menilai hidup batiniah manusia, bukan yang kelihatan dengan mata. Hal ini juga menunjukkan bahwa Yesus tidak datang sekadar untuk merekonsiliasikan kita dengan Allah, melainkan antara kita (manusia) satu sama lain juga. Oleh salib-Nya, Dia dapat membebaskan kita dari keserakahan/ketamakan yang telah menyebabkan kita mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita.

Bagaimana dengan kita? Dapatkah kita melihat adanya sifat-sifat orang Farisi dalam diri kita? Kita mungkin saja ingin untuk setia kepada semangat hukum Allah, namun begitu mudah kita menjadi jatuh dan gagal. Kemudian kita fokus pada praktek agama yang mudah terlihat oleh orang-orang lain, walaupun hati kita penuh dengan noda-noda egoisme, ketamakan, kecemburuan, dlsb. Hanya apabila Yesus hidup dalam diri kita maka keadilan Allah dan belas kasih-Nya akan datang ke tengah dunia.

DOA:

“Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, karena kemenangan-Mu atas ketidakadilan dan kejahatan! Ajarlah kami untuk menimbang-nimbang segala hal seperti yang Kaulakukan, dan untuk mempraktekkan keadilan dengan melayani dan menolong orang-orang lain. Amin.”

 

585 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *