Renungan Injil Mat 10: 24-33

11698680_10204346429528604_3720714934099055070_n

Injil Mat 10: 24-33

Pada waktu itu Yesus bersabda kepada kedua belas murid-Nya, “Seorang murid tidak melebihi gurunya, dan seorang hamba tidak melebihi tuannya. Cukuplah bagi seorang murid, jika ia menjadi sama seperti gurunya, dan bagi seorang hamba, jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kalian takut kepada mereka yang memusuhimu, karena tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi, yang takkan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah dari atas atap rumah. Dan janganlah kalian takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Tetapi takutilah Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual seduit dua ekor? Namun tak seekor pun akan jatuh tanpa kehendak Bapamu. Dan kalian, rambut kepalamu pun semuanya telah terhitung. Sebab itu janganlah kalian takut, karena kalian berharga daripada banyak burung pipit. Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia, dia akan Kuakui di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga.”

RENUNGAN:

Dalam ajaran-Nya, Yesus berkata, “Janganlah kamu takut” (Mat 10:26,28), ttp juga Dia berkata, “Takutlah” (Mat 10:28). Janganlah takut menghadapi para pendengarmu; janganlah takut akan apa yang akan dikatakan orang-orang; janganlah takut bahkan kepada orang-orang yang akan membunuh kamu, kata Yesus. Namun “… takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat 10:28), artinya takut kepada Allah. Kita harus memiliki keprihatinan atas apa yang dipikirkan Allah tentang diri kita.

Ingatlah bahwa semakin kita merasa dekat dengan Allah, semakin baiklah kita. Hal tersebut mengubah kita menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Ketika Yesus berkata bahwa kita harus takut kepada Allah, Dia juga mengatakan bahwa kita tidak usah takut kepada Bapa surgawi karena Dia adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nya.

Dengan demikian kita harus menarik suatu garis keseimbangan yang baik antara rasa takut dan cintakasih. Apabila cintakasih itu riil, maka jelas hal itu berarti kurangnya hal-hal yang ditakuti, kita tidak merasa takut ketahuan dan tertangkap basah, kita jujur dengan dengan pribadi yang sungguh kita kasihi. Namun kita juga takut: takut untuk menyakiti orang yang kita kasihi, takut untuk menjadi egois atau tidak jujur atau tidak setia.

Cintakasih yang sejati mengandung suatu rasa takut di dalamnya: rasa takut bahwa pada suatu hari saya dapat mengabaikan orang yang sangat saya kasihi.

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, biarlah kami merasa prihatin, bahkan takut akan apa yang terjadi dalam hati kami yang terdalam karena dalam hati kamilah cintakasih harus nyata, bukan sekadar dalam ucapan kata kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, ya Tuhan. Amin.”

1857 Total Views 5 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *