Harga Gabah Terus Merosot di Lampung Timur

w850_h__1427026297

Gabah kering

Harga Gabah Terus Merosot di Lampung Timur

Sukadana, lampost.co — Harga gabang kering panen di bilangan Lampung Timur, terutama di bilangan Pekalongan, Batanghari, dan Sekampung, dalam sebulan terakhir merosot tajam. Jika semula para pengepul masih bersedia membeli Rp4.800/kilogram, kini tinggal Rp3.500/kilogram. Sapto, petani di bilagan Batangharjo, Batanghari, mengaku saat panen sekitar sebulan lalu, pengepul masih membeli padi kering panen petani rata-rata Rp4.800/kilogram. “Itu pun mereka berebut Mas. Kalau ada yang menawar lebih rendah Rp100 saja, kita akan jual kepada pembeli lain sehingga pembeli langsung membeli tanpa menawar lagi,” katanya.

Hal yang sama juga diakui Mahmud, petani di bilangan Sumbergede, Sekampung. Menurut dia, sampai awal Maret, para pengepul masih mau membeli Rp4.200 hingga Rp4.500/kilogram. Namun, seiring waktu—ketika panen raya terjadi di bilangan Sekampung dan Batanghari, harga terus turun. Kini harga gabah kering panen di kedua kecamatan itu tinggal berkisar antara Rp3.800 hingga Rp3.600 per kilogram. Itu pun, para pengepul sudah ogah-ogahan mendatangi para petani yang tengah panen di areal persawahan beririgasi teknis.

Sejumlah petani yang ditemui terpisah—yang tinggal beberapa hari lagi panen—mengaku sangat khawatir saat panen padinya tiba, harga akan jauh lebih buruk lagi. Sebab, jumlah pengepul yang jemput bola sudah relatif berkurang.

Jika petani Sekampung dan Batanghari masih cemas, beberapa petani di bilangan Pekalongan justru sudah merasakannya. Di bilangan Desa Sidodadi, misalnya, para pengepul rata-rata hanya mau membeli gabah antara Rp3.600 hingga Rp3.500/kg. Padahal, panen padi di sana baru mulai sekitar dua pekan lalu.

Kekhawatiran juga muncul pada para petani di bilangan Lampung Tengah, terutama di beberapa desa di Kecamatan Punggur. Menurut Udin, harga gabah kering panen di sana memang masih bertahan antara Rp3.700 dan Rp3.600/kg. Namun karena di Batanghari dan Sekampung sudah anjlok, dia khawatir harga di sana akan lebih buruk lagi.

Berbeda dengan di Metro. Harga jual bahan pangan ini di bekas ibu kota Lampung Tengah itu justru relatif bertahan tinggi dibanding Lampung Tengah maupun Lampung Timur. Hingga kemarin, harga komoditas ini masih berkisar antara Rp3.700 dan Rp3.800/kg. Petani di 24 kelurahan di lima kecamatan itu memang belum panen raya.

Menurut Hudi, ketua Kelompok Tani Tirtomulyo, harga jual yang masih relatif tinggi di wilayahnya itu karena biaya transportasi yang masih cukup murah. Sebab, meskipun tidak terlalu baik, semua jalan di Metro sudah beraspal dan cukup mudah dilalui kendaraan roda empat.

613 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *